Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah terus menggenjot potensi pariwisata berbasis religi dan akses penerbangan antarnegara bersama Pemerintah Uzbekistan. Pembukaan rute langsung tanpa transit menjadi salah satu agenda strategis yang didorong demi mempermudah akses perjalanan jemaah serta turis dari kedua pihak.
Langkah penguatan kemitraan ini ditegaskan oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Moch. Irfan Yusuf, kala melakukan audiensi bersama Gubernur Samarkand, Adiz Boboev, di Samarkand. Kunjungan ini sekaligus menjadi aksi balasan atas kedatangan pimpinan daerah Samarkand tersebut ke Tanah Air beberapa bulan sebelumnya.
Moch. Irfan Yusuf menerangkan bahwa ikatan emosional serta sejarah keagamaan antara masyarakat Nusantara dan Asia Tengah sudah berakar sejak ratusan tahun lalu. Pengaruh ajaran para tokoh agama legendaris dari wilayah tersebut menjadi fondasi utama yang ingin dihidupkan kembali dalam bingkai kerja sama modern.
Sektor wisata ziarah dipandang memiliki prospek besar. Jemaah asal Indonesia kerap memadukan agenda umrah dengan kunjungan ke mancanegara. Wilayah Samarkand dinilai sangat berpotensi menjadi opsi favorit baru mengimbangi rute-rute populer yang selama ini didominasi kawasan Timur Tengah. Meski demikian, Menhaj memaparkan bahwa teknis pelaksanaan perjalanan ziarah berada di bawah kendali sektor swasta atau PPIU, sehingga kolaborasi bisnis (business-to-business) antarpelaku usaha perjalanan dari kedua negara perlu segera direalisasikan.
Di sisi lain, Indonesia turut menawarkan beragam objek wisata unggulan bagi warga Uzbekistan. Selain destinasi populer seperti Bali, kawasan seperti Lombok, Wakatobi, hingga Belitung dipromosikan sebagai alternatif liburan yang eksotis.
Pihak Uzbekistan merespons positif peluang ekspansi ini. Daerah Samarkand sendiri menyimpan warisan sejarah Islam yang sangat penting, seperti situs peninggalan Imam Bukhari, At-Tirmidzi, hingga Bahauddin Naqsyaband. Keberadaan penerbangan langsung diyakini bakal menjadi pendorong utama lonjakan trafik wisatawan dari kedua belah pihak.
Pertemuan bilateral ini terasa makin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan momen peringatan tujuh dekade napak tilas kunjungan Presiden Soekarno ke Uzbekistan pada kurun waktu 1956. Histori tersebut diharapkan menjadi pijakan kuat untuk merealisasikan kerja sama konkret di bidang logistik udara dan pertumbuhan industri pelesiran religi.














