Jakarta, 2 Oktober 2026 — Kementerian Agama (Kemenag) RI resmi melepas keberangkatan 48 calon mahasiswa Indonesia yang akan menimba ilmu di Maroko. Sebelum terbang menjemput impian akademik mereka, puluhan generasi muda ini telah digembleng secara khusus dalam program Pre-Departure yang digelar oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) selama tiga hari, mulai 30 September hingga 2 Oktober 2026.
Fokus utama pembekalan ini bukan sekadar pemantapan urusan administrasi, melainkan penanaman nilai etika, integritas, serta kemampuan adaptasi sosial budaya di negara tujuan.
Sederet tokoh penting Kemenag turun langsung memberikan wejangan kepada para calon mahasiswa. Mereka di antaranya adalah Kasubdit Kelembagaan dan Kerja Sama PTKI Ahmad Mahfud Arsyad, Sekretaris Itjen Kemenag Khoirul Huda Basyir, dan Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong.
Dalam paparannya, Ahmad Mahfud Arsyad menyoroti bahwa studi ke luar negeri merupakan bagian krusial dari pembangunan kapasitas pemuda Indonesia. Menurutnya, kecerdasan akademik mutlak harus diimbangi dengan kedisiplinan dan keluwesan dalam beradaptasi.
“Setiap langkah mahasiswa di luar negeri turut membawa nama baik bangsa. Karena itu, jaga etika dan manfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat jejaring akademik antara Indonesia dan Maroko,” tegas Mahfud.
Sementara itu, Sekretaris Itjen Kemenag Khoirul Huda Basyir menitikberatkan pesannya pada aspek kejujuran dan kepatuhan. Ia mengingatkan bahwa integritas adalah modal utama yang tak boleh luntur selama berada di negeri orang. Prestasi cemerlang di kampus, kata Khoirul, tidak akan berarti tanpa dibarengi oleh karakter dan tanggung jawab moral yang baik.
Pesan yang tak kalah mendalam datang dari Staf Khusus Menag, Farid F. Saenong. Ia memotivasi mahasiswa agar percaya diri menempatkan posisi mereka di tengah pergaulan global. Farid berpesan agar mahasiswa bisa menjadi warga dunia tanpa melupakan akar budaya Tanah Air.
“Kalian berangkat untuk belajar, tetapi di saat yang sama kalian juga adalah pencerita tentang Indonesia. Tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang terbuka, berilmu, dan menjunjung nilai kemanusiaan. Jadilah global tanpa kehilangan akar,” ungkap Farid.
Selain mendapat pencerahan dari narasumber, para peserta juga difasilitasi ruang diskusi mengenai kesiapan mental, strategi komunikasi lintas budaya, dan kiat-kiat bertahan di lingkungan baru.
Rangkaian orientasi ini dipungkasi dengan prosesi pengantaran ke-48 mahasiswa menuju Bandara Internasional Jakarta pada Jumat (2/10/2026). Melalui pelepasan ini, Kemenag menaruh harapan besar agar sekembalinya ke Tanah Air kelak, para pelajar ini mampu menjadi agen perubahan yang mendongkrak kualitas pendidikan Islam serta sumber daya manusia (SDM) unggul di Indonesia.




















